Akal sehat dalam belajar itu wajib
Ya, pada masa Islamic Golden Age (Zaman Keemasan Islam), ilmu umum (sains, matematika, filsafat) dan ilmu agama (teologi, hukum, tafsir) sangat digabungkan dan saling melengkapi. Ilmu pengetahuan dianggap sebagai alat untuk memahami ciptaan Tuhan, dan tidak ada dikotomi atau pemisahan antara ilmu agama dan sains. [1, 2, 3, 4, 5]
Berikut adalah bentuk penggabungan dan karakteristik keilmuan pada era tersebut:
- Sains sebagai Ibadah: Mempelajari alam semesta dianggap sebagai bentuk ibadah dan refleksi keimanan. Banyak ilmuwan besar juga merupakan tokoh agama atau ulama besar. [1, 2, 3, 4, 5]
- Penggunaan Sains untuk Syariat: Ilmu astronomi dan matematika digunakan secara praktis untuk menentukan waktu sholat dan arah kiblat, serta penghitungan kalender Hijriah. [1, 2]
- Institusi Terintegrasi: Pusat-pusat studi, seperti Baitul Hikmah di Baghdad, memfasilitasi riset ilmu kedokteran, optik, dan astronomi berdampingan dengan studi keagamaan dan penerjemahan naskah kuno. [1, 2]
- Tokoh Serba Bisa: Cendekiawan Muslim pada masa itu menguasai berbagai bidang sekaligus. Misalnya:
- Ibnu Sina (Avicenna): Seorang ahli medis penulis buku The Canon of Medicine yang juga seorang filsuf dan penghafal Al-Qur'an (hafidz).
- Al-Khawarizmi: Bapak Aljabar yang bekerja sebagai matematikawan sekaligus astronom, serta memiliki latar belakang ilmu agama yang kuat.
- Al-Biruni: Ilmuwan yang meneliti gravitasi dan keliling bumi, yang juga mendalami perbandingan agama dan teologi. [1, 2, 3]