mutasyabihat
Mutasyabihat (المتشابهات) dalam Al-Qur'an berarti ayat-ayat yang maknanya tidak langsung jelas, mengandung beberapa kemungkinan makna, atau hakikatnya hanya diketahui secara sempurna oleh Allah.
Konsep ini dijelaskan dalam QS. Ali 'Imran ayat 7:
"Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu. Di antara isinya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Al-Qur'an, dan yang lain mutasyabihat..."
(QS. Ali 'Imran: 7)
Secara sederhana:
1. Muhkamat
Ayat yang maknanya jelas dan menjadi dasar ajaran Islam, misalnya:
Perintah salat
Larangan zina
Kewajiban puasa
Keesaan Allah (tauhid)
Contoh:
"Dirikanlah salat." (QS. Al-Baqarah: 43)
2. Mutasyabihat
Ayat yang memerlukan penjelasan lebih lanjut atau yang hakikatnya berada di luar pengetahuan manusia.
Contohnya:
Huruf-huruf pembuka surah seperti:
Alif Lam Mim (الم)
Ha Mim (حم)
Qaf (ق)
Perkara gaib, seperti:
Hakikat ruh
Detail kenikmatan surga
Detail azab neraka
Kapan kiamat terjadi
Ayat tentang sifat Allah, seperti:
"Ar-Rahman beristiwa di atas 'Arsy." (QS. Taha: 5)
Para ulama memiliki pendekatan yang berbeda dalam memahaminya:
Ada yang menyerahkan hakikat maknanya kepada Allah (tafwid).
Ada yang menjelaskan makna yang sesuai dengan kebesaran Allah tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk (ta'wil yang dibenarkan).
Hikmah adanya ayat mutasyabihat antara lain:
Menguji keimanan dan kerendahan hati manusia.
Mendorong manusia untuk belajar dan mentadabburi Al-Qur'an.
Mengingatkan bahwa ilmu manusia terbatas, sedangkan ilmu Allah sempurna.
Jadi, mutasyabihat bukan berarti ayat yang salah atau membingungkan, melainkan ayat yang mengandung kedalaman makna atau perkara gaib yang tidak seluruh hakikatnya dapat dijangkau akal manusia. Sikap yang dianjurkan adalah beriman kepada seluruh Al-Qur'an dan memahami ayat mutasyabihat dengan merujuk kepada ayat-ayat yang muhkamat serta penjelasan para ulama.
Sunnah Rasulullah ﷺ adalah segala sesuatu yang berasal dari Nabi Muhammad ﷺ, baik berupa:
Perkataan (qauliyyah), misalnya sabda-sabda beliau dalam hadis.
Perbuatan (fi'liyyah), seperti tata cara salat, wudu, dan haji yang beliau praktikkan.
Persetujuan (taqririyyah), yaitu ketika beliau mengetahui suatu perbuatan sahabat lalu membiarkannya atau menyetujuinya.
Allah memerintahkan kaum Muslim untuk mengikuti Rasulullah ﷺ. Di antaranya:
QS. Al-Ahzab ayat 21: Rasulullah ﷺ adalah teladan terbaik (uswah hasanah) bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir.
QS. An-Nisa' ayat 80: "Barang siapa menaati Rasul, maka sungguh ia telah menaati Allah."
QS. Al-Hasyr ayat 7: "Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka ambillah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah."
Contoh sunnah Rasulullah ﷺ dalam kehidupan sehari-hari antara lain:
Menjaga salat tepat waktu.
Membaca Al-Qur'an dan berzikir.
Mengucapkan salam.
Bersikap jujur dan amanah.
Tersenyum kepada sesama.
Berbakti kepada orang tua.
Bersedekah.
Menjaga kebersihan.
Berdoa sebelum dan sesudah melakukan berbagai aktivitas.
Mengikuti sunnah bukan hanya tentang ibadah, tetapi juga meneladani akhlak beliau. Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia."
Dengan mengikuti sunnah, seorang Muslim berusaha semakin dekat kepada Allah dan meneladani kehidupan Rasulullah ﷺ dalam ibadah, akhlak, dan muamalah sehari-hari.