Keadaan 1 Hari 1000 taunn
Perbedaannya terletak pada tujuan, cara, dan sumbernya.
Mencari perkara gaib demi keuntungan dunia biasanya berarti mencari pengetahuan atau kekuatan gaib untuk memperoleh harta, kekuasaan, jodoh, atau pengaruh melalui cara-cara yang tidak dibenarkan, seperti mendatangi dukun, meminta bantuan jin, atau praktik perdukunan. Dalam Islam, hal ini dilarang karena perkara gaib yang tidak Allah bukakan tidak boleh dicari dengan cara seperti itu. Allah berfirman bahwa tidak ada yang mengetahui perkara gaib selain Allah, kecuali siapa yang Dia kehendaki untuk diberi wahyu.
Mencari perkara gaib untuk keuntungan akhirat berbeda. Yang dicari bukanlah rahasia gaib yang tersembunyi, melainkan beriman kepada kabar gaib yang Allah dan Rasul-Nya telah jelaskan dalam Al-Qur'an dan hadis, seperti adanya malaikat, surga, neraka, hari kiamat, hisab, dan mizan. Keimanan kepada yang gaib justru merupakan ciri orang bertakwa. Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 2–3 bahwa Al-Qur'an adalah petunjuk bagi orang bertakwa, yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib.
Jadi, Islam tidak memerintahkan manusia memburu rahasia gaib yang Allah sembunyikan. Yang diperintahkan adalah mempercayai kabar gaib yang Allah wahyukan agar hati terdorong beramal saleh dan mempersiapkan diri untuk akhirat.
Singkatnya:
Gaib untuk dunia melalui jalan yang dilarang → mencari keuntungan dunia dengan cara yang tidak Allah izinkan.
Gaib untuk akhirat melalui wahyu → memperkuat iman dan mendorong ibadah demi keridaan Allah dan keselamatan di akhirat.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala says:
تَعْرُجُ الْمَلٰٓئِكَةُ وَ الرُّوْحُ اِلَيْهِ فِيْ يَوْمٍ كَا نَ مِقْدَا رُهٗ خَمْسِيْنَ اَلْفَ سَنَةٍ
"The angels and the Spirit will ascend to Him during a Day the extent of which is fifty thousand years."
(QS. Al-Ma'aarij 70: Verse 4)