Hanya bisa liat Allah di jannah surga
Ya, dalam ajaran Islam, keyakinan pokoknya adalah bahwa tauhid (mengesakan Allah) merupakan risalah seluruh nabi sejak awal.
Al-Qur'an menjelaskan bahwa semua rasul membawa seruan yang sama dalam pokok akidah:
Surah Al-Anbiya' (21:25): "Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya: Tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku."
Surah An-Nahl (16:36): Allah mengutus rasul kepada setiap umat agar mereka menyembah Allah dan menjauhi thaghut.
Surah Asy-Syura (42:13): Allah mensyariatkan agama yang sama pokoknya kepada Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Nabi Muhammad ﷺ.
Mengenai zaman azali, dalam akidah Islam terdapat peristiwa ketika Allah mengambil kesaksian dari keturunan Adam sebagaimana disebut dalam Surah Al-A'raf (7:172). Ayat ini dipahami sebagai perjanjian bahwa Allah adalah Rabb manusia. Ini menunjukkan bahwa pengakuan terhadap keesaan Allah memiliki kedudukan yang sangat mendasar.
Adapun sebelum Nabi Muhammad ﷺ, para nabi seperti Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan nabi-nabi lainnya semuanya mengajarkan tauhid. Yang berbeda di antara syariat mereka adalah rincian hukum (misalnya aturan ibadah atau muamalah), sedangkan dasar akidahnya tetap sama: menyembah Allah semata tanpa menyekutukan-Nya.
Jadi, menurut ajaran Islam, dapat disimpulkan bahwa:
Sejak awal penciptaan manusia, Allah menetapkan pengenalan kepada-Nya sebagai Rabb.
Semua nabi membawa ajaran tauhid.
Nabi Muhammad ﷺ datang sebagai penutup para nabi yang menyempurnakan dan menegaskan kembali risalah tauhid untuk seluruh umat manusia.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَلَمَّا جَآءَ مُوْسٰى لِمِيْقَا تِنَا وَكَلَّمَهٗ رَبُّهٗ ۙ قَا لَ رَبِّ اَرِنِيْۤ اَنْظُرْ اِلَيْكَ ۗ قَا لَ لَنْ تَرٰٮنِيْ وَلٰـكِنِ انْظُرْ اِلَى الْجَـبَلِ فَاِ نِ اسْتَقَرَّ مَكَا نَهٗ فَسَوْفَ تَرٰٮنِيْ ۚ فَلَمَّا تَجَلّٰى رَبُّهٗ لِلْجَبَلِ جَعَلَهٗ دَكًّا وَّخَرَّ مُوْسٰى صَعِقًا ۚ فَلَمَّاۤ اَفَا قَ قَا لَ سُبْحٰنَكَ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاَ نَاۡ اَ وَّلُ الْمُؤْمِنِيْنَ
"Dan ketika Musa datang untuk (munajat) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, (Musa) berkata, "Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau." (Allah) berfirman, "Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung itu, jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya engkau dapat melihat-Ku." Maka ketika Tuhannya menampakkan (keagungan-Nya) kepada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar, dia berkata, "Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.""
(QS. Al-A'raf 7: Ayat 143)