Dalam pemahaman Islam, tasawuf adalah ilmu yang bertujuan menyucikan hati (tazkiyatun nafs), memperbaiki akhlak, dan mendekatkan diri kepada Allah selama hidup di dunia.
Di Jannah (surga), tujuan-tujuan tersebut pada dasarnya sudah tercapai. Al-Qur'an menggambarkan bahwa penghuni surga telah disucikan dari kebencian, iri hati, dan segala sifat buruk. Misalnya dalam Surah Al-A'raf ayat 43, Allah menyebut bahwa rasa dengki dicabut dari hati mereka.
Karena itu, para ulama umumnya menjelaskan bahwa:
Ilmu tasawuf berguna di dunia sebagai sarana penyucian jiwa dan pembinaan akhlak.
Di surga, tidak ada lagi hawa nafsu yang mendorong kepada maksiat, tidak ada penyakit hati, dan tidak ada ujian yang mengharuskan seseorang melakukan latihan spiritual sebagaimana di dunia.
Namun, buah dari perjalanan tasawuf—seperti cinta kepada Allah, dzikir, rasa syukur, dan kedekatan dengan-Nya—tetap menjadi kenikmatan yang lebih sempurna di surga. Penghuni surga terus memuji Allah dan menikmati kedekatan dengan-Nya tanpa kesulitan atau perjuangan.
Jadi, fungsi tasawuf sebagai metode pendidikan dan penyucian jiwa berakhir ketika seseorang telah masuk surga, sedangkan hasilnya berupa hati yang bersih, akhlak yang sempurna, dan kedekatan dengan Allah menjadi kenikmatan yang kekal di Jannah.
Dalam Islam, Allah memberikan mukjizat kepada para nabi dan rasul sebagai bukti bahwa mereka benar-benar utusan-Nya. Mukjizat terjadi dengan izin Allah dan tidak dapat ditiru oleh manusia.
Berikut beberapa mukjizat yang paling dikenal:
Nabi Adam: diciptakan langsung oleh Allah tanpa ayah dan ibu, diajarkan nama-nama segala sesuatu.
Nabi Nuh: membangun bahtera yang menyelamatkan orang-orang beriman dari banjir besar.
Nabi Hud: diberi pertolongan Allah saat kaum 'Ad dibinasakan angin yang dahsyat.
Nabi Saleh: keluarnya unta betina dari batu sebagai tanda bagi kaumnya.
Nabi Ibrahim: tidak terbakar ketika dilempar ke dalam api; Allah menjadikan api itu sejuk dan menyelamatkannya.
Nabi Luth: diselamatkan dari azab yang menimpa kaumnya.
Nabi Ismail: diselamatkan ketika akan disembelih; Allah menggantinya dengan seekor sembelihan.
Nabi Ya'qub: penglihatannya kembali setelah bertahun-tahun buta.
Nabi Yusuf: mampu menakwil mimpi dengan ilmu yang Allah berikan.
Nabi Ayyub: disembuhkan dari penyakit berat setelah berdoa kepada Allah.
Nabi Musa: tongkat menjadi ular, membelah Laut Merah, memancarkan 12 mata air dari batu, tangan bercahaya.
Nabi Harun: mendampingi Nabi Musa dan turut diperkuat Allah dalam dakwah.
Nabi Dawud: besi menjadi lunak di tangannya, suara indah dalam membaca zabur.
Nabi Sulaiman: mampu berbicara dengan hewan, menguasai angin dan jin dengan izin Allah.
Nabi Yunus: selamat dari perut ikan besar setelah berdoa.
Nabi Zakaria: dikaruniai putra di usia yang sangat tua.
Nabi Yahya: diberi hikmah sejak masih kecil.
Nabi Isa: lahir tanpa ayah, menyembuhkan orang buta dan penderita kusta, menghidupkan orang mati dengan izin Allah, berbicara saat masih bayi.
Nabi Muhammad:
Al-Qur'an sebagai mukjizat terbesar dan abadi.
Isra' dan Mi'raj.
Bulan terbelah (syaqqul qamar).
Air memancar dari sela-sela jari beliau.
Makanan sedikit menjadi cukup untuk banyak orang dengan izin Allah.
Tidak semua mukjizat setiap nabi disebutkan secara rinci dalam Al-Qur'an. Allah berfirman bahwa ada rasul yang kisahnya diceritakan kepada kita dan ada pula yang tidak diceritakan. Yang pasti, setiap nabi dan rasul diberi tanda-tanda (mukjizat) sesuai hikmah Allah untuk membuktikan kebenaran risalah mereka.