Tabir
Allah berbicara menggunakan perantara (seperti Malaikat Jibril) dan diwahyukan dalam bentuk Al-Quran dijelaskan secara spesifik
dalam Surah Asy-Syura ayat 51.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَمَا كَا نَ لِبَشَرٍ اَنْ يُّكَلِّمَهُ اللّٰهُ اِلَّا وَحْيًا اَوْ مِنْ وَّرَآئِ حِجَا بٍ اَوْ يُرْسِلَ رَسُوْلًا فَيُوْحِيَ بِاِ ذْنِهٖ مَا يَشَآءُ ۗ اِنَّهٗ عَلِيٌّ حَكِيْمٌ
"Dan tidaklah patut bagi seorang manusia bahwa Allah akan berbicara kepadanya kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengutus utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Maha Tinggi, Maha Bijaksana."
(QS. Asy-Syura 42: Ayat 51)
Ayat tersebut menegaskan bahwa tidak mungkin bagi manusia berbicara langsung dengan Allah SWT, melainkan melalui 3 cara: diwahyukan (diilhamkan), dari balik tabir, atau dengan mengutus seorang utusan (Malaikat Jibril) yang menyampaikan wahyu dengan seizin-Nya.